Menukar Uang Bisa Jadi Riba

Ada sebuah kasus sederhana diceritakan bahwa Ahmad hendak menukarkan uang pecahan kepada yusuf sebesar Rp10,000 tetapi yusuf hanya memiliki uang Rp9.000 ada selisih 1000 rupiah dari penukaran ini. dan karena ahmad sangat memerlukannya dengan serta merta dia memberikan uang Rp10.000 ditukar dengan Rp9.000 dengan asumsi nanti yusuf akan memberikan sisanya setelah dia memilikinya

Dari contoh kasus diatas hal ini banyak terjadi di kehidupan kita, seakan sesuatu hal yang sudah lumrah.

Tetapi dari kacamata islam hal kecil seperti inipun ternyata harus hati-hati jangan sampai Anda terkena hukum riba.

Perlu diketahui bahwa prinsip menukar uang di dalam islam adalah

Nilai uang yang akan ditukar harus “sama dengan” nilai hasil penukarannya

Misalkan : penukaran 10.000 yaa hasil tukarpun harus bernilai sama, jika hasil tukar tidak sama maka hal ini bisa terkena hukum ribawi

Lalu bagaimana solusi terhadap contoh kasus diatas

Solusinya

1. Ahmad sebaiknya jangan menukarkan uang kepada yusuf, dan sebaiknya carilah teman lain untuk menukarkan uangnya tentunya dengan nilai uang yang sama yaa..

2. Karena uang yusuf kurang, Ahmad bisa meminjam uang kepada Yusuf, dan tentunya pinjaman tersebut sesuai keridhaan dari yusuf

Dan jika yang dipinjamkan uangnya cukup besar maka sertakan perjanjian dalam utang piutang tersebut.

 

Semoga bermanfaat

Bank umum konvensional

Bank konvensional

Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank Umum memiliki peranan yang strategis dalam menyelaraskan dan menyeimbangkan unsur-unsur pemerataan pembangunan dan hasil- hasil pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional guna menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Bank umum konvensional terbagi atas Bank Pemerintah, Bank Swasta, Bank swasta nasional nondevisa, Bank pembangunan daerah, Bank campuran, Bank asing

Bank pemerintah

Bank pemerintah adalah bank yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Berikut ini adalah daftar bank pemerintah, yaitu:

  1. Bank Mandiri
  2. Mutiara Bank
  3. Bank Negara Indonesia
  4. Bank Rakyat Indonesia
  5. Bank Tabungan Negara

Bank swasta

Bank swasta adalah bank dimana sebagian besar sahamnya dimiliki oleh swasta nasional sertaakte pendirianpun didirikan oleh swasta, pembagian keuntungannya jugauntuk swasta nasional. Bank swasta dibedakan menjadi 2 yaitu:

Bank swasta nasional devisa

  1. Bank Agroniaga
  2. Bank Anda (Surabaya), sebelumnya dikenal sebagai “Bank Antar Daerah”
  3. Bank Artha Graha Internasional, sebelum bulan Mei 2005 bernama “Bank Interpacific”
  4. Bank Bukopin
  5. Bank Bumi Arta
  6. Bank Capital Indonesia
  7. Bank Central Asia
  8. Bank CIMB Niaga, sebelum tanggal 15 Oktober 2008 bernama “Bank Niaga”
  9. Bank Danamon Indonesia
  10. Bank Ekonomi Raharja
  11. Bank Ganesha
  12. Bank Hana, sebelum tanggal 17 Maret 2008 bernama “Bank Bintang Manunggal”
  13. Bank Himpunan Saudara 1906 (Bandung)
  14. Bank ICB Bumiputera, sebelum tanggal 11 September 2009 bernama “Bank Bumiputera Indonesia”
  15. Bank ICBC Indonesia, sebelumnya bernama “Bank Halim Indonesia”
  16. Bank Index Selindo
  17. Bank Internasional Indonesia, dalam proses perubahan nama menjadi “Bank Maybank Indonesia”[2]
  18. Bank Maspion (Surabaya)
  19. Bank Mayapada
  20. Bank Mega
  21. Bank Mestika Dharma (Medan)
  22. Bank Metro Express
  23. Bank Nusantara Parahyangan (Bandung)
  24. Bank OCBC NISP, sebelum tanggal 7 Februari 2011 bernama “Bank NISP”
  25. Bank of India Indonesia, sebelum tanggal 17 November 2011 bernama “Bank Swadesi”
  26. Panin Bank
  27. Bank Permata, sebelum tanggal 18 Oktober 2002 bernama “Bank Bali”
  28. Bank QNB Kesawan, sebelum tanggal 12 Desember 2011 bernama “Bank Kesawan”
  29. Bank SBI Indonesia, sebelum tanggal 30 April 2009 bernama “Bank Indo Monex”
  30. Bank Sinarmas, sebelumnya bernama “Bank Shinta Indonesia”
  31. Bank UOB Indonesia, sebelum tanggal 19 Mei 2011 bernama “Bank UOB Buana”/sebelumnya bernama “Bank Buana Indonesia”

Bank swasta nasional nondevisa

  1. Anglomas Internasional Bank (Surabaya)
  2. Bank Andara, sebelum tanggal 30 Januari 2009 bernama “Bank Sri Partha”
  3. Bank Artos Indonesia (Bandung)
  4. Bank Bisnis Internasional (Bandung)
  5. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (Bandung)
  6. Centratama Nasional Bank (Surabaya)
  7. Bank Dipo International
  8. Bank Fama Internasional (Bandung)
  9. Bank Harda Internasional
  10. Bank Ina Perdana
  11. Bank Jasa Jakarta
  12. Bank Kesejahteraan Ekonomi
  13. Bank Liman International
  14. Bank Mayora
  15. Bank Mitraniaga
  16. Bank Multi Arta Sentosa
  17. Bank Nationalnobu, sebelum tanggal 12 November 2008 bernama “Bank Alfindo Sejahtera”
  18. Prima Master Bank
  19. Bank Pundi Indonesia, sebelum tanggal 23 September 2010 bernama “Bank Eksekutif Internasional”
  20. Bank Royal Indonesia
  21. Bank Sahabat Purba Danarta (Semarang), sebelum tanggal 16 September 2009 bernama “Bank Purba Danarta”
  22. Bank Sinar Harapan Bali
  23. Bank Victoria Internasional
  24. Bank Yudha Bhakti

Bank pembangunan daerah

Bank pembangunan daerah adalah bank yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah Provinsi.

  1. Bank Jambi (Jambi)
  2. Bank Kalsel (Banjarmasin)
  3. Bank Kaltim (Samarinda)
  4. Bank Sultra (Kendari)
  5. Bank BPD DIY (Yogyakarta)
  6. Bank Nagari (Padang)
  7. Bank DKI (Jakarta)
  8. Bank Lampung (Bandar Lampung)
  9. Bank Kalteng (Palangka Raya)
  10. Bank BPD Aceh (Banda Aceh)
  11. Bank Sulsel (Makassar)
  12. Bank BJB (Bandung), dahulu dikenal sebagai Bank Jabar Banten atau BPD Jawa Barat.
  13. Bank Kalbar (Pontianak)
  14. Bank Maluku (Ambon)
  15. Bank Bengkulu (Kota Bengkulu)
  16. Bank Jateng (Semarang)
  17. Bank Jatim (Surabaya)
  18. Bank NTB (Mataram)
  19. Bank NTT (Kupang)
  20. Bank Sulteng (Palu)
  21. Bank Sulut (Manado)
  22. Bank BPD Bali (Denpasar)
  23. Bank Papua (Jayapura), dahulu dikenal sebagai BPD Irian Jaya
  24. Bank Riau Kepri (Pekanbaru), dahulu dikenal sebagai Bank Riau
  25. Bank Sumsel Babel (Palembang), dahulu dikenal sebagai Bank Sumsel
  26. Bank Sumut (Medan)

Bank campuran

Bank campuran adalah bank umum yang didirikan bersama oleh satu atau lebih bank umum yang berkedudukan di Indonesia dan didirikan oleh WNI (dan/atau badan hukum Indonesia yang dimiliki sepenuhnya oleh WNI), dengan satu atau lebih bank yang berkedudukan di luar negeri.

  1. Bank ANZ Indonesia, sebelum 12 Januari 2012 bernama “ANZ Panin Bank”
  2. Bank Commonwealth
  3. Bank Agris, sebelum 5 September 2008 bernama “Bank Finconesia”
  4. Bank BNP Paribas Indonesia
  5. Bank Capital Indonesia
  6. Bank Chinatrust Indonesia
  7. Bank DBS Indonesia
  8. Bank KEB Indonesia
  9. Bank Mizuho Indonesia
  10. Bank Rabobank International Indonesia
  11. Bank Resona Perdania
  12. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia
  13. Bank Windu Kentjana International, sebelum tanggal 7 Februari 2008 bernama “Bank Multicor”
  14. Bank Woori Indonesia, sebelum bulan Februari 2002 bernama “Bank Hanvit Indonesia”

Bank asing

  1. Bank of America
  2. Bangkok Bank
  3. Bank of China
  4. Citibank
  5. Deutsche Bank
  6. HSBC
  7. JPMorgan Chase
  8. Royal Bank of Scotland, sebelum tanggal 22 Februari 2011 bernama “ABN AMRO”
  9. Standard Chartered
  10. The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ

 

Tujuan dan Tugas Bank Indonesia

Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu

kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.

Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.

Tiga Pilar Utama

Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas ini adalah:

  1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.
  2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta
  3. Mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia.

Ketiganya perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Sikap Pedagang Muslim

a. Berlaku Benar

Berperilaku benar merupakan ruh keimanan dan ciri utama orang yang beriman. Sebaliknya, dusta merupakan perilaku orang munafik. Seorang muslim dituntut untuk berlaku benar, seperti dalam jual beli, baik dari segi promosi barang atau penetapan harganya. Oleh karena itu, salah satu karakter pedagang yang terpenting dan diridhai Allah adalah berlaku benar.

Dusta dalam berdagang sangat dicela terlebih jika diiringi sumpah atas nama Allah. “Empat macam manusia yang dimurkai Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang congkak, orang tua renta yang berzina, dan pemimpin yang zalim.”(HR Nasai dan Ibnu Hibban)

b. Menepati Amanat

Menepati amanat merupakan sifat yang sangat terpuji. Yang dimaksud amanat adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya. Orang yang tidak melaksanakan amanat dalam islam sangat dicela.

Hal-hal yang harus disampaikan ketika berdagang adalah penjual atau pedagang menjelaskan ciri-ciri, kualitas, dan harga barang dagangannya kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannya. Hal itu dimaksudkan agar pembeli tidak merasa tertipu dan dirugikan.

c. Jujur

Selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku jujur. Kejujuran merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam jual beli karena kejujuran akan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merugikan salah satu pihak. Sikap jujur dalam hal timbangan, ukuran kualitas, dan kuantitas barang yang diperjual belikan adalah perintah Allah SWT. Firman Allah lihat Al-quran

Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS Al A’raf : 85)

Sikap jujur pedagang dapat dicontohkan seperti dengan menjelaskan cacat barang dagangan, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya

“Muslim itu adalah saudara muslim, tidak boleh seorang muslim apabila ia
berdagang dengan saudaranya dan menemukan cacat, kecuali diterangkannya.”
Lawan sifat jujur adalah menipu atau curang, seperti mengurangi takaran, timbangan, kualitas, kuantitas, atau menonjolkan keunggulan barang tetapi menyembunyikan cacatnya.

Hadis lain meriwayatkan dari umar bin khattab r.a berkata seorang lelaki mengadu kepada rasulullah SAW sebagai berikut “ katakanlah kepada si penjual, jangan menipu! Maka sejak itu apabila dia melakukan jual beli, selalu diingatkannya jangan menipu.”(HR Muslim)

d. Khiar

Khiar artinya boleh memilih satu diantara dua yaitu meneruskan kesepakatan (akad) jual beli atau mengurungkannya (menarik kembali atau tidak jadi melakukan transaksi jual beli). Ada tiga macam khiar yaitu sebagai berikut.

1) Khiar Majelis

Khiar majelis adalah si pembeli dan penjual boleh memilih antara meneruskan akad jual beli atau mengurungkannya selama keduanya masih tetap ditempat jual beli. Khiar majelis ini berlaku pada semua macam jual beli.

2) Khiar Syarat

Khiar syarat adalah suatu pilihan antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah mempertimbangkan satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka jual beli harus ditegaskan untuk dilanjutkan atau diurungkan. Masa khiar syarat selambat-lambatnya tiga hari

3) Khiar Aib (cacat)

Khiar aib (cacat) adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila barang tersebut diketahui ada cacatnya. Kecacatan itu sudah ada sebelumnya, namun tidak diketahui oleh si penjual maupun si pembeli.

Hadis nabi Muhammad saw. Yang artinya : “Jika dua orang laki-laki mengadakan jual beli, maka masing-masing boleh melakukan khiar selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul, atau salah satu melakukan khiar, kemudian mereka sepakat dengan khiar tersebut, maka jual beli yang demikian itu sah.” (HR Mutafaqun alaih)