Keadilan

by siti saodah alawiyah on May 1, 2011

Keadilan (justice). Kata yang terbanyak disebut dalam Al-Qur’an setelah Allah, dan ilmu pengetahuan, ialah keadilan. Kata “keadilan” disebut lebih dari 1000 kali, menunjukkan betapa nilai dasar ini memiliki bobot yang sangat dimuliakan dalam islam berkait dengan aspek sosial, politik maupun ekonomi.

keadilanKeadilan berarti kebebasan yang bersyarat akhlak Islam. “Adapun orang yang kikir (tidak mau mengorbankan sedikit pun dari haknya) dan mereka merasa cukup sendiri (egoistis) serta mendustakan (mencemoohkan) kebaikan, makan Kami licinkan jalan kearah kesukaran (kekacauan).” (al-Lail: 8-10)

Kebebasan yang tidak terbatas akan mengakibatkan ketidakserasiannya antara pertumbuhan produksi dan hak-hak istimewa bagi segolongan kecil untuk mengumpulkan kekayaan berlimpah (lihat surat al-Hadid: 20) dan mempertajam pertentangan antara yang kuat dan kaya dengan yang lemah dan miskin, dan akhirnya akan menghancurkan tatanan sosial (al-Humazah: 1-3).

Keadilan harus ditetapkan di semua fase kegiatan ekonomi. Keadilan dalam produksi dan konsumsi ialah aransemen efisiensi dan memberantas pemborosan. Adalah suatu kezaliman dan penindasan apabila seseorang dibiarkan berbuat terhadap hartanya sendiri yang melampaui batas yang ditetapkan dan bahkan sampai merampas hak orang lain (an-Nisa': 160-161; asy-Syu’ara: 182-183; al-Baqarah: 188). Keadilan dalam distribusi ialah penilaian yang tepat terhadap faktor-faktor produksi dan kebijaksanaan harga hasilnya sesuai denga takaran yang wajar dan ukurang yang tepat atau kadar yang sebenarnya (al-Hijr: 19; Thaha: 6; al-Furqan: 2; al-‘Ala: 1-3).

Keadilan berarti kebijaksanaan mengalokasikan sejumlah hasil tertentu dari kegiatan ekonomi, bagi mereka yang tidak mampu memasuki pasar atau tidak sanggup membelinya menurut kekuatan pasar, yakni kebijaksanaan melalui zakat, infak, dan sedekah (lihat surat al-Baqarah: 110, 271, 280; an-Nisa:8; at-Taubah:60; an-Nur: 33; an-Naml: 26-27; Muhammad: 38; al-Hadid: 7; al-Mumtahanah: 8; al-Ma’aarij: 24-25).

Perhatikan pula hadits Nabi Muhammad saw., “Saya bersumpah kepada Allah bukanlah orang yang beriman yang sepanjang hari makan kenyang, sedang mereka mengetahui tetangganya dalam kelaparan.”

Keterangan ayat-ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa distribusi pendapatan dan kekayaan harus merata bagi seluruh manusia sesuai dengan kemampuan fisik, mental, pengetahuan, dan keterampilan untuk melakukan kegiatan ekonomi (lihat surat ar-Rum: 37).

Karakter pokok dari nilai keadilan di atas menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat ekonomi haruslah memiliki sifat makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran menurut syariat Islam. Penyimpangan dari keadaan tersebut akan berakibat masyarakat divonis oleh ayat Allah sebagai berikut.

“Apabila Kami menghendaki untuk menghancurkan suatu negeri,Kami memberi kesempatan kepada orang-orang yang mewah di negeri itu untuk memerintah, kemudian mereka membuat kecurangan-kecurangan di negeri itu, maka benar-benar terjadilah keputusan kata (vonis) atas negeri itu, lalu Kami hancur luluhkannya.” (al-Isra: 16)

“Dan Kami menghendaki untuk memberi pertolongan kepada kaum tertindas di bumi, untuk Kami jadikan mereka itu pemimpin-pemimpin dan Kami jadikan pula mereka itu pewaris-pewaris.” (an-Naml: 5)

Ketiga nilai dasar ekonomi Islam tersebut, yakni kebebasan terbatas terhadap pemilikan harta kekayaan dan sumber-sumber, nilai keseimbangan, dan nilai keadilan, merupakan kesatuan nilai yang tidak dapat dipisahkan. Nilai dasar ini merupakan pangkal bertolak untuk mengungkap nilai-nilai instrumental ekonomi.

Incoming search terms:

  • hadits tentang keadilan
  • hadist tentang keadilan
  • hadits tentang adil
  • hadist tentang keadilan dalam islam
  • ayat dan hadits tentang keadilan
  • nilai keadilan
  • ayat atau hadits keadilan

Leave a Comment

Previous post:

Next post:

</